_Oleh M. Idris Hady, S.E._
GEMBLOG, JAKARTA - Di tengah derasnya arus pembangunan, investasi, dan perubahan sosial yang terus berlangsung, muncul satu pertanyaan yang menggugah hati: kalau semua memilih diam, siapa lagi yang akan menjaga tanah dan umat?
Pertanyaan itu menjadi benang merah dalam refleksi yang disampaikan M. Idris Hady, S.E. Menurutnya, umat tidak boleh kehilangan keberanian untuk menyuarakan keadilan ketika melihat berbagai persoalan yang dinilai merugikan masyarakat.
Bagi penulis, Islam bukan hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga memerintahkan umatnya untuk menegakkan keadilan. Ia mengutip firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 135 yang menyerukan orang-orang beriman agar menjadi penegak keadilan. Ayat tersebut dipandang sebagai panggilan moral bagi setiap muslim untuk tidak berpangku tangan ketika menghadapi ketidakadilan.
Dalam pandangannya, diam terhadap persoalan yang menimpa masyarakat bukanlah pilihan yang dapat dibenarkan. Ia juga mengingatkan hadis Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan umat untuk mengubah kemungkaran sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Sorotan utama tulisan ini diarahkan pada persoalan pengelolaan tanah, pembangunan, dan investasi. Penulis berpendapat bahwa setiap kebijakan pembangunan seharusnya benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat serta menjaga kelestarian lingkungan hidup. Menurutnya, apabila suatu kebijakan justru menyebabkan masyarakat kehilangan ruang hidup atau merusak lingkungan, maka hal tersebut patut dikritisi secara terbuka melalui mekanisme yang sesuai dengan hukum dan prinsip demokrasi.
M. Idris Hady juga menyoroti peran partai politik sebagai representasi rakyat. Menurutnya, kepercayaan publik hanya dapat dijaga apabila para pemegang amanah benar-benar memperjuangkan kepentingan masyarakat, bukan sekadar menghadirkan janji-janji politik.
Tidak hanya itu, ia mengajak kalangan akademisi untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam menyuarakan kebenaran. Baginya, ilmu pengetahuan tidak cukup berhenti di ruang kuliah atau penelitian, tetapi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama ketika menghadapi berbagai persoalan sosial.
Dalam refleksinya, penulis mengingatkan bahwa sejarah para nabi menunjukkan setiap perjuangan menegakkan kebenaran selalu menghadapi ujian. Karena itu, menurutnya, rasa takut terhadap kritik atau kegaduhan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan nilai-nilai keadilan.
Ia juga menegaskan bahwa penyelesaian persoalan bangsa harus dimulai dari keberanian menggali akar masalah. Sebagaimana seseorang harus menggali tanah untuk menemukan sumber air, demikian pula keadilan hanya dapat ditemukan apabila masyarakat berani mengungkap berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi.
Di akhir tulisannya, M. Idris Hady mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat semangat amar ma'ruf nahi munkar sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan dalam menjaga negeri serta melindungi masyarakat dari berbagai bentuk ketidakadilan.
"Kalau setelah membaca tulisan ini kita masih memilih diam, maka khawatir kita termasuk dalam golongan yang membiarkan kemungkaran terjadi di depan mata," tulisnya sebagai penutup refleksi.
Terlepas dari beragam pandangan yang dapat muncul terhadap isu-isu tersebut, tulisan ini menjadi pengingat bahwa menjaga keadilan, memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta menyampaikan aspirasi secara damai dan sesuai dengan ketentuan hukum merupakan bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*/Red)
Jakarta, 9 Juli 2026
Penulis: M. Idris Hady, S.E.
Sekretaris Jenderal ADA API (Aliansi Damai Anti Penistaan Islam), Alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan, Jombang.



