_Oleh M. Idris Hady, S.E._
GEMBLOG, Jakarta - Negara ini sedang menghadapi ujian yang tidak ringan. Di satu sisi, pembangunan dan investasi terus digaungkan sebagai simbol kemajuan. Namun di sisi lain, tidak sedikit rakyat pribumi yang justru merasakan dampak sebaliknya: kehilangan ruang hidup, tergeser dari tanah leluhur, dan menyaksikan lingkungan yang selama ini menjadi sumber kehidupan perlahan mengalami kerusakan.
Tulisan ini bukan untuk menolak pembangunan, melainkan mengajak seluruh elemen bangsa agar tidak lagi berlindung di balik kata "kalau" atau "nanti". Sebab hari ini, kata "kalau" telah berubah menjadi cermin tanggung jawab kita bersama.
Kalau rakyat pribumi terus memilih diam dan tidak menyuarakan hak-haknya, maka bukan tidak mungkin mereka akan terus berada pada posisi yang dirugikan. Diam bukan selalu berarti damai; terkadang diam justru membuka ruang bagi ketidakadilan untuk terus berlangsung.
Kalau ada kebijakan yang mengatasnamakan pembangunan dan investasi tetapi justru merusak lingkungan hidup serta menggeser keberadaan rakyat pribumi dari tanahnya sendiri, maka sudah saatnya kita bertanya: apakah benar arah pembangunan itu telah berpihak kepada kepentingan bangsa?
Pembangunan seharusnya menghadirkan kesejahteraan tanpa mengorbankan keadilan. Legalitas semata tidak cukup apabila pelaksanaannya mengabaikan hak-hak masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Kalau partai politik mengaku sebagai wakil rakyat, maka keberpihakan kepada rakyat harus dibuktikan dalam kebijakan dan tindakan nyata, bukan sekadar janji yang berulang setiap musim politik. Demokrasi hanya akan bermakna apabila suara rakyat benar-benar menjadi dasar dalam setiap pengambilan keputusan.
Kalau civitas akademika hanya menjadi kelompok intelektual di ruang-ruang kuliah dan enggan hadir di tengah persoalan masyarakat, maka ilmu pengetahuan akan kehilangan salah satu fungsi utamanya, yakni menghadirkan solusi bagi kehidupan bangsa. Intelektual tidak hanya dituntut cerdas, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran.
Kalau ada yang khawatir bahwa menyampaikan kebenaran akan menimbulkan kegaduhan, ingatlah bahwa setiap kelahiran selalu diawali dengan perjuangan. Rasa sakit bukanlah tujuan, melainkan bagian dari proses lahirnya kehidupan baru. Demikian pula perubahan. Ia sering kali lahir dari keberanian menghadapi ketidaknyamanan demi masa depan yang lebih baik.
Kalau kita ingin menemukan sumber air, maka kita harus berani menggali ke dalam tanah. Begitu pula ketika mencari solusi atas berbagai persoalan bangsa, kita harus berani menyentuh akar masalah, bukan sekadar menyelesaikan gejalanya di permukaan.
Kalau kita tidak tergerak menjaga tanah air dan melindungi masyarakat yang hidup serta bergantung padanya, maka kita sedang membiarkan kepentingan sesaat mengalahkan nilai keadilan dan kemanusiaan.
Karena itu, marilah kita bersama-sama menjaga negeri ini dengan tetap menjunjung tinggi konstitusi, keadilan sosial, kelestarian lingkungan, serta penghormatan terhadap hak-hak masyarakat. Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang menghadirkan kemajuan sekaligus melindungi seluruh warga negara tanpa terkecuali.
Kalau setelah membaca tulisan ini kita masih memilih diam terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitar kita, maka setidaknya kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara yang peduli terhadap masa depan bangsa?
Perubahan tidak lahir dari sikap apatis. Perubahan lahir ketika kepedulian diwujudkan menjadi tindakan yang bertanggung jawab demi Indonesia yang adil, berdaulat, dan bermartabat. (*/Red)
Bogor, 08 Juli 2026
Penulis adalah Sekretaris Jenderal ADA API (Aliansi Damai Anti Penistaan Islam).



