GEMBLOG, BOGOR TIMUR - Gagasan tentang kebangkitan kembali peradaban intelektual Nusantara kembali disuarakan. Dalam sebuah tulisan bertanggal 13 Agustus 2026, M. Idris Hady, S.E., Sekjen ADA API (Aliansi Damai Anti Penistaan Islam), mengajak masyarakat untuk melihat sejarah Nusantara bukan sekadar sebagai masa lalu, melainkan sebagai warisan ilmu, kebudayaan, spiritualitas, dan kearifan yang harus dijaga oleh generasi sekarang.
Mengawali tulisannya dengan Bismillahirrahmanirrahim dan salam, Idris menegaskan bahwa peradaban Nusantara tidak lahir dari ruang kosong.
“Peradaban Nusantara bukanlah peradaban kosong. Ia adalah warisan amanah dari para ulama, aulia, dan leluhur yang berilmu.”
Menurutnya, jejak intelektual tersebut dapat ditemukan dalam berbagai peninggalan sejarah, mulai dari tradisi manuskrip, karya sastra dan filsafat, pengetahuan maritim, astronomi, hingga sistem kehidupan masyarakat yang mengandung kearifan lokal.
Manuskrip hingga Astronomi, Jejak Intelektual Nusantara
Idris menyoroti tradisi manuskrip sebagai salah satu bukti penting perkembangan intelektual masyarakat Nusantara. Naskah-naskah lama, menurutnya, tidak hanya memuat sastra, tetapi juga pembahasan keagamaan, hukum, pengobatan tradisional, tauhid, tasawuf, dan berbagai pengetahuan lainnya.
Ia juga menyebut karya-karya seperti Negarakertagama, berbagai Babad, serta khazanah tasawuf dari ulama Aceh dan Jawa sebagai bagian dari perjalanan panjang pemikiran masyarakat Nusantara.
Pada bidang maritim, kemampuan nenek moyang Nusantara membaca arah pelayaran melalui tanda-tanda alam dan rasi bintang dipandang sebagai gambaran perpaduan antara pengetahuan, pengalaman, dan keyakinan spiritual.
“Bagi kita, itu bukan sekadar kemampuan teknis. Itu juga menjadi tanda kebesaran Allah dan kecerdasan manusia dalam membaca ciptaan-Nya,” demikian gagasan yang disampaikan dalam tulisan tersebut.
Sementara itu, kearifan lokal dalam pengelolaan desa, pertanian, lingkungan, dan sumber daya alam dipandang sebagai bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardh, pengelola bumi yang dituntut berlaku adil dan bertanggung jawab.
“Dari Satu Gedung Saling Melumpuhkan”
Dalam bagian lain tulisannya, Idris kemudian mengaitkan persoalan peradaban dengan kondisi kehidupan intelektual bangsa saat ini.
Ia menyinggung munculnya sejumlah tokoh publik, termasuk Roy Suryo dan dr. Tifa, yang menurut pandangannya telah menjadi pemantik diskusi mengenai sejarah, identitas, dan kesadaran intelektual masyarakat.
Idris bahkan menggambarkan keduanya sebagai “pelita” di tengah apa yang ia nilai sebagai persoalan pembodohan dan melemahnya kesadaran sejarah.
Namun, pandangan tersebut merupakan penilaian dan argumentasi penulis yang masih berada dalam ruang perdebatan publik. Berbagai tudingan atau penilaian terhadap pihak tertentu tetap perlu dibuktikan melalui fakta dan sumber yang dapat diverifikasi.
Iran dan Pelajaran tentang Identitas Peradaban
Tulisan tersebut juga mengambil contoh Republik Islam Iran. Menurut Idris, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan militer atau sumber daya material, tetapi juga oleh kekuatan identitas sejarah dan peradaban yang hidup dalam kesadaran masyarakatnya.
Ia melihat pengalaman Iran sebagai salah satu contoh bagaimana identitas Persia dan tradisi Islam dapat menjadi bagian dari kesadaran kebangsaan.
Dari sana, ia mengajukan pertanyaan yang lebih luas: mengapa kesadaran sejarah dan semangat mempertahankan martabat bangsa dianggap semakin melemah di Indonesia?
Idris berpendapat bahwa salah satu persoalannya adalah keterputusan generasi muda dari akar sejarah dan warisan intelektual bangsanya.
Pendidikan Sejarah dan Ancaman Hilangnya Jati Diri
Menurut Idris, bangsa yang tidak mengenal sejarahnya akan mudah kehilangan arah. Karena itu, ia mendorong agar sejarah Nusantara tidak hanya dipelajari sebagai rangkaian tanggal dan nama tokoh, tetapi juga sebagai perjalanan ilmu pengetahuan, kebudayaan, spiritualitas, teknologi, dan tata kehidupan masyarakat.
Baginya, membangun kembali kesadaran tersebut tidak berarti menghidupkan romantisme masa lalu secara membabi buta. Sebaliknya, warisan leluhur harus dikaji secara kritis, dibuktikan melalui penelitian, dilestarikan, dan diambil nilai positifnya untuk menjawab tantangan masa kini.
Pesan keagamaan juga menjadi bagian penting dalam tulisan tersebut. Idris mengutip QS. Az-Zumar ayat 9:
“Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
Ia juga mengutip hadis riwayat Muslim mengenai kewajiban mengubah kemungkaran sesuai kemampuan.
Menjaga SDA, Martabat, dan Masa Depan Bangsa
Di bagian penutup, Idris menghubungkan kebangkitan intelektual dengan persoalan kedaulatan sumber daya alam. Ia menyerukan lahirnya generasi yang memiliki kepedulian terhadap bangsa, lingkungan, dan masa depan Indonesia.
Ia berharap generasi mendatang bukan hanya menjadi generasi yang menguasai teknologi, tetapi juga memahami akar sejarah dan memiliki tanggung jawab moral terhadap negeri.
“Semoga Allah menjadikan perjuangan ini sebagai jalan lahirnya generasi Rabbani. Generasi yang menjaga nusa dan bangsa,” tulisnya.
Pada akhirnya, tulisan M. Idris Hady bukan hanya berbicara tentang masa lalu. Ia melempar pertanyaan kepada generasi hari ini: apakah warisan intelektual Nusantara akan berhenti sebagai koleksi manuskrip dan cerita sejarah, atau justru menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan?
Perdebatan mengenai sejarah, agama, identitas, dan arah bangsa tentu akan terus berlangsung. Namun satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah pentingnya tradisi intelektual yang sehat: membaca sejarah dengan bukti, berdiskusi dengan ilmu, berbeda pendapat tanpa saling meniadakan, serta menjaga martabat bangsa tanpa kehilangan sikap kritis. (Red)
Sebagaimana pesan penulis:
“Hasbunallah wa ni’mal wakil. Wallahu a’lam bishawab.”
Bogor Timur, 13 Agustus 2026
M. Idris Hady, S.E.
Sekjen ADA API (Aliansi Damai Anti Penistaan Islam)



