GEMBLOG, MAMUJU TENGAH - Aktivitas alat berat yang diduga beroperasi di kawasan Gunung Rea, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, menuai keresahan masyarakat. Aktivitas tersebut direkam warga pada Rabu, 8 Juli 2026, dan disebut berlangsung di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Gunung Rea.
Seorang warga, Mulyadi, kepada kontributor kami mengatakan bahwa di kawasan tersebut diduga terjadi perambahan hutan dan aktivitas pertambangan ilegal.
"Alat berat ini sedang beroperasi di sebuah kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Gunung Rea. Di Gunung Rea, hingga saat ini sawit sudah banyak yang panen. Itu artinya penggarapannya sudah lebih dari empat tahun lalu. Kalau tambang ilegalnya diperkirakan sudah berjalan sejak tujuh tahun lalu," ujarnya.»
Gunung Rea diketahui memiliki nilai ekologis yang tinggi. Berdasarkan data Jadesta Kementerian Pariwisata RI, kawasan ini masih menjadi habitat berbagai flora dan fauna yang dilindungi, di antaranya pohon mahoni, burung rangkong, serta berbagai jenis satwa dan tumbuhan lainnya. Karena itu, segala bentuk perusakan habitat alaminya merupakan tindakan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selain memiliki fungsi ekologis, kawasan Gunung Rea juga dinilai memiliki peran penting dalam mitigasi bencana. Berdasarkan data BAZNAS Mamuju Tengah dan Tim Gabungan Evakuasi Tahun 2025, satu unit rumah milik warga di Dusun Salupangkang II, Desa Kambunong, Kecamatan Karossa, pernah dievakuasi karena berada di kawasan rawan longsor di sekitar Gunung Rea.
Lebih lanjut, Mulyadi menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi hutan yang menurutnya mengalami deforestasi secara masif dalam beberapa tahun terakhir.
"Sebagai pribumi, kami sangat prihatin menyaksikan deforestasi hutan yang begitu masif akhir-akhir ini di tempat ini. Gunung Rea yang selama ini berfungsi sebagai kompas bagi para nelayan setempat dan para pelaut yang melintasi Selat Makassar, kini tak dapat lagi memberi petunjuk arah kedalaman maupun letak karang di area spot memancing akibat kayu-kayunya telah roboh dan lahannya telah dirampas."»
Menurutnya, perubahan kondisi Gunung Rea tidak hanya berdampak pada kelestarian lingkungan, tetapi juga menghilangkan fungsi alam yang selama ini menjadi penunjuk arah bagi masyarakat pesisir.
"Sehingga fungsi Gunung Rea sebagai acuan tanda-tanda alam yang selama ini berperan bagi jalannya kehidupan masyarakat, tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya," tutupnya. (Fd/Red)
Pewarta : FAD



