-->

Iklan

Benner Atas

Ketika Semua Merasa Benar: Antara Logika, Bias, dan Keberanian Diuji

Admin
Kamis, Mei 14, 2026 WIB Last Updated 2026-05-14T15:52:08Z


GEMBLOG, Palopo - Di era media sosial, kebenaran sering kali tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling tepat, melainkan siapa yang paling cepat, paling lantang, dan paling banyak didukung. Setiap perdebatan bisa berubah menjadi ajang pembuktian ego, bukan pencarian fakta.


Padahal, sejak lama dunia ilmu pengetahuan sudah mengajarkan satu prinsip penting: kebenaran bukan sesuatu yang sakral dan tak tersentuh.


Filsuf ilmu pengetahuan Karl Popper memperkenalkan konsep falsifikasi, sebuah gagasan sederhana tapi mendasar:

-  Sebuah pernyataan dianggap ilmiah bukan karena bisa dibuktikan benar, tetapi karena bisa diuji dan berpotensi salah.


Dengan kata lain, ukuran sebuah kebenaran justru terletak pada seberapa terbuka ia terhadap kritik dan pengujian.


Jika sebuah keputusan, pendapat, atau klaim tidak boleh dipertanyakan, maka ia telah keluar dari wilayah rasionalitas. Ia berubah menjadi otoritas.


Secara biologis, manusia dibekali bagian otak bernama prefrontal cortex pusat pengambilan keputusan, logika, dan pertimbangan moral. Di sinilah manusia seharusnya menimbang benar dan salah secara rasional.

Namun kenyataannya, manusia tidak sepenuhnya rasional.


Sering kali, keputusan yang kita anggap logis justru sudah lebih dulu dipengaruhi oleh emosi, pengalaman, dan persepsi awal. Logika hanya datang belakangan—untuk membenarkan apa yang sudah kita yakini sejak awal.


Jebakan Bias yang Tak Terlihat

Di sinilah peran cognitive bias—bias berpikir yang bekerja diam-diam.


Tanpa disadari, kita:

-  Lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan kita (confirmation bias)

-  Terpengaruh oleh opini yang ramai (bandwagon effect)

-  Terlalu percaya diri dengan penilaian sendiri (overconfidence).


Menilai sesuatu berdasarkan contoh yang paling mudah diingat (availability bias)

Akibatnya, perdebatan tidak lagi tentang mencari kebenaran, tetapi tentang mempertahankan posisi.


Dalam banyak kasus yang viral hari ini, inti persoalannya sering kali bukan siapa yang benar atau salah. Masalahnya adalah apakah ada ruang untuk menguji kebenaran itu secara terbuka dan adil.


Ketika kritik dianggap sebagai serangan, ketika evaluasi dianggap sebagai pembangkangan, dan ketika klarifikasi dianggap sebagai ancaman, maka yang terjadi bukan lagi proses berpikir, melainkan pertahanan diri.


Kebenaran sejati tidak membutuhkan perlindungan berlebihan. Ia justru membutuhkan pengujian.


Sebuah keputusan yang kuat tidak akan runtuh hanya karena diperiksa ulang. Sebaliknya, ia akan semakin kokoh karena telah melewati proses verifikasi.


Sebaliknya, keputusan yang rapuh akan selalu menghindari pertanyaan.


Di tengah derasnya arus opini, ada satu hal yang perlu diingat:

-  Logika bukan tentang siapa yang paling yakin,  tapi siapa yang paling siap untuk diuji.


Karena pada akhirnya, yang menolak untuk diperiksa bukanlah yang paling benar,

melainkan yang paling takut terbukti salah. (Red)

Komentar

Tampilkan

  • Ketika Semua Merasa Benar: Antara Logika, Bias, dan Keberanian Diuji
  • 0

Terkini