-->

Iklan

Benner Atas

Jurnalis Warga Naik Kelas: Gagasan Besar Wilson Lalengke dari Lemhannas yang Kini Makin Relevan

Admin
Senin, Maret 30, 2026 WIB Last Updated 2026-03-29T17:32:52Z



GEMBLOG, Jakarta - Di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya sensasi berita yang kerap mengabaikan nilai edukasi, sebuah gagasan lama justru kembali menemukan momentumnya. Pemikiran Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA., tentang pengembangan karier dan potensi ekonomi jurnalis warga kini dinilai semakin relevan untuk menjawab tantangan zaman, Senin (30/3/2026).


Tulisan yang disadur dari Taskap (Kertas Karya Ilmiah Perseorangan) peserta PPRA-48 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia tahun 2012 itu tidak sekadar membahas jurnalisme sebagai profesi, tetapi juga sebagai kekuatan sosial-ekonomi berbasis nilai kebangsaan.


Dalam pemikirannya, Wilson menyoroti fenomena media pasca reformasi yang cenderung mengedepankan sensasi. Prinsip “bad news is good news” dinilai telah menggeser fungsi utama pers sebagai pencerah masyarakat.


Sebagai solusi, ia menawarkan pendekatan jurnalisme berbasis nilai Pancasila. Dalam konsep ini, berita tidak hanya mengejar perhatian publik, tetapi juga membawa dampak positif.


“Berita baik harus dikemas secara menarik, sehingga mampu menginspirasi dan menggerakkan masyarakat,” menjadi semangat utama gagasan tersebut.


Lebih jauh, Wilson Lalengke menempatkan jurnalis warga sebagai aktor penting dalam pembangunan. Tidak sekadar pelapor peristiwa, mereka diposisikan sebagai:

-  Pendidik masyarakat (agent of education) Penggerak ekonomi lokal,

-  Penghubung informasi strategis di akar rumput


Dalam konteks ini, jurnalis warga dinilai memiliki keunggulan karena lebih dekat dengan realitas masyarakat dibanding media arus utama.


Agar mampu bersaing dan diakui, jurnalis warga didorong untuk meningkatkan kapasitas melalui langkah konkret, antara lain:


1. Pendidikan dan Pelatihan Terstruktur


Sinergi dengan pemerintah menjadi kunci. Pelatihan jurnalistik, etika media, hingga literasi digital perlu diperluas agar jurnalis warga tidak sekadar aktif, tetapi juga kompeten.


2. Sertifikasi Profesi


Melalui lembaga seperti Badan Nasional Sertifikasi Profesi, jurnalis warga dapat memperoleh pengakuan formal yang meningkatkan kredibilitas mereka di mata publik.


3. Penguatan Komunitas Media


Media komunitas menjadi ruang strategis untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun jaringan. Di sinilah isu-isu lokal seperti pangan, pertanian, dan ekonomi desa bisa diangkat secara konsisten.


Salah satu poin paling visioner dari gagasan ini adalah integrasi antara jurnalisme dan kemandirian ekonomi.


Menurut Wilson, jurnalis warga tidak boleh bergantung pada pola lama yang rentan secara finansial. Sebaliknya, mereka harus mampu menciptakan sumber pendapatan mandiri, seperti:

-  Mengelola media digital komunitas (portal, YouTube, media sosial),

-  Mengembangkan kerja sama promosi UMKM lokal,

-  Mengakses kemitraan dengan pemerintah daerah dan sektor swasta,

-  Bahkan, jurnalis warga didorong untuk terjun langsung sebagai pelaku usaha, sehingga memiliki ketahanan ekonomi yang kuat.


Gagasan lain yang tak kalah penting adalah dorongan pada solution journalism atau jurnalisme berbasis solusi.


Liputan tentang keberhasilan petani, inovasi desa, hingga pengolahan pangan lokal dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi. Konten semacam ini tidak hanya mengedukasi, tetapi juga berpotensi menarik investor, akademisi, hingga program CSR perusahaan.


Di sinilah jurnalis warga berperan sebagai “jembatan emas” antara potensi lokal dan peluang ekonomi yang lebih luas.


Dalam konteks yang lebih luas, gagasan ini sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan nasional. Dengan mengangkat potensi pangan dan kearifan lokal, jurnalis warga dapat menjadi motor penggerak ekonomi berbasis komunitas.


Promosi produk lokal, edukasi pasar digital, hingga penguatan identitas budaya menjadi bagian dari ekosistem baru yang saling terhubung.


Lebih dari satu dekade setelah ditulis di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, gagasan ini justru semakin kontekstual.


Di era media sosial saat ini, siapa pun bisa menjadi jurnalis. Namun tanpa arah, potensi tersebut justru rawan disalahgunakan.


Pemikiran Wilson Lalengke menawarkan jalan tengah:

"menggabungkan integritas, profesionalitas, dan kemandirian ekonomi dalam satu ekosistem jurnalisme warga yang berkelanjutan".


Tulisan ini bukan sekadar konsep akademik, tetapi peta jalan menuju masa depan jurnalisme Indonesia yang lebih sehat dan berdaya.


Jika dijalankan secara konsisten, jurnalis warga tidak hanya akan menjadi penyampai berita, tetapi juga penggerak perubahan dan pilar ketahanan ekonomi keluarga serta bangsa. (Red)


_Note: Tulisan ini disadur dari Taskap (Kertas Karya Ilmiah Perseorangan) peserta PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 atas nama Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA. Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI)_


Penulis : SAD PPWI 



Komentar

Tampilkan

  • Jurnalis Warga Naik Kelas: Gagasan Besar Wilson Lalengke dari Lemhannas yang Kini Makin Relevan
  • 0

Terkini