GEMBLOG, Palopo - Pada masa lampau, jauh sebelum dikenal sebagai Palopo, wilayah ini hanyalah sebuah kampung kecil di pesisir Teluk Bone yang disebut To Uwe. Kampung tersebut dikelilingi hutan dan rawa yang dipenuhi tanaman rotan. Karena rotan tumbuh sangat banyak di daerah itu, masyarakat setempat menyebutnya To Uwe, yang dalam bahasa setempat berarti tempat yang banyak rotan.
Pada masa itu, wilayah To Uwe berada dalam kekuasaan Kerajaan Luwu, salah satu kerajaan tertua di Sulawesi Selatan. Pusat pemerintahan kerajaan saat itu masih berada di wilayah Malangke, yang dikenal sebagai pusat kekuasaan dan perdagangan.
Seiring berjalannya waktu, terjadi perselisihan di kalangan bangsawan kerajaan. Konflik tersebut melibatkan tokoh-tokoh penting kerajaan yang menyebabkan situasi politik menjadi tidak stabil. Untuk menjaga keamanan dan kedamaian kerajaan, akhirnya diputuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Malangke ke daerah lain yang dianggap lebih aman dan strategis.
Pilihan kemudian jatuh kepada kampung To Uwe. Letaknya yang berada di pesisir membuat daerah ini mudah dijangkau oleh jalur perdagangan laut. Selain itu, wilayahnya juga cukup luas untuk dijadikan pusat pemerintahan baru. Sejak saat itu, To Uwe mulai berkembang. Istana kerajaan didirikan, para bangsawan menetap di sana, dan masyarakat dari berbagai daerah mulai datang untuk berdagang maupun menetap.
Tidak lama setelah pusat kerajaan dipindahkan, agama Islam mulai berkembang pesat di wilayah Luwu. Untuk mendukung perkembangan agama tersebut, dibangun sebuah masjid besar yang kemudian dikenal sebagai Masjid Jami Tua Palopo sekitar tahun 1604. Masjid ini menjadi salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan dan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat Tana Luwu, ketika masjid tersebut sedang dibangun, para pekerja sering meneriakkan kata “Palopo’i!”. Kata itu berarti “tancapkan” atau “masukkan”, yang digunakan saat menancapkan tiang-tiang kayu bangunan masjid. Seruan itu terus terdengar selama proses pembangunan.
Lama-kelamaan, kata Palopo menjadi sangat akrab di telinga masyarakat. Orang-orang yang datang dari daerah lain mulai menyebut wilayah tersebut sebagai Palopo, bukan lagi To Uwe. Sejak saat itu, nama To Uwe perlahan menghilang dan digantikan oleh nama Palopo.
Seiring waktu, Palopo berkembang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan penyebaran agama Islam di wilayah Tana Luwu. Hingga sekarang, jejak sejarah tersebut masih dapat dilihat dari berbagai peninggalan budaya dan bangunan tua yang masih berdiri, terutama Masjid Jami Tua Palopo, yang menjadi saksi perjalanan panjang daerah tersebut.
Dalam ingatan masyarakat Tana Luwu, kisah perubahan To Uwe menjadi Palopo bukan sekadar pergantian nama, tetapi juga melambangkan perubahan sebuah kampung kecil menjadi pusat peradaban dan kebudayaan di tanah Luwu. **
Daftar Pustaka
- Abdullah, Taufik, dan A. B. Lapian (Ed.). 2012. Indonesia dalam Arus Sejarah. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.
- Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Sejarah Daerah Sulawesi Selatan. Jakarta: Depdikbud.
- Mattulada. 1995. Latoa: Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Makassar: Hasanuddin University Press.
- Patunru, Abdurrazak Daeng. 1983. Sejarah Luwu. Ujung Pandang: Lembaga Sejarah dan Kebudayaan Sulawesi Selatan.
- Rahim, A. Rahman. 1985. Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.
- Sewang, Ahmad M. 2005. Islamisasi Kerajaan Gowa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
- Artikel sejarah tentang Masjid Jami Tua Palopo dan perkembangan Islam di wilayah Kerajaan Luwu, diakses melalui portal berita detikcom.
Penulis : SAD PPWI (Ahad, 15/3/2026)



