_Narasi by EAGLE 37 (Nasrun Natsir)_
GEMBLOG, PALOPO - Detak Nadi yang Terlupa
Di balik dinding-dinding kaca gedung bertingkat, di antara riuh rendah kedai kopi modern dan gemerlap layar gawai, ada sebuah ruang sunyi di dalam dada kelas menengah kita. Sebuah ruang yang sering kali terisi oleh kenyamanan, namun perlahan melupakan dari mana kenyamanan itu berasal.
Nasionalisme bagi kita hari ini acap kali terasa kaku, sebatas upacara rutin, seragam yang rapi, atau pekik merdeka yang hanya menggema setahun sekali. Padahal, nasionalisme sejati bukanlah sebuah kewajiban yang dipaksakan. Ia adalah sebuah Amanat Penderitaan Rakyat.
Bayangkan sejenak. Jauh sebelum aspal halus membentang di kota-kota kita, tanah yang kita pijak ini dibasahi oleh keringat, air mata, dan darah. Para pendahulu kita para pahlawan yang namanya tercatat dalam buku sejarah maupun mereka yang gugur tanpa nama tidak pernah menuntut kemewahan. Mereka hanya menitipkan satu hal: Tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mereka berkorban bukan agar kita menjadi bangsa yang individualis. Mereka menderita agar kita, generasi hari ini, tidak perlu lagi merasakan perihnya penindasan. Namun, amnesia sejarah sering kali membuat kita buta. Kita menikmati buahnya, tetapi lupa pada akar yang menghidupinya.
Persatuan Tanpa Sekat
Nasionalisme yang kita butuhkan hari ini bukanlah nasionalisme yang berjarak. Ia adalah rasa yang lahir dari rahim persatuan yang kokoh, di mana tidak ada lagi sekat yang memisahkan kita.
* Petani yang mencangkul tanah di bawah terik matahari demi ketahanan pangan bangsa.
* Buruh dan Kelas Pekerja yang memutar roda ekonomi di pabrik-pabrik dengan peluh yang menetes.
* Pengusaha yang membuka ruang-ruang penghidupan dan menggerakkan inovasi.
* Tentara dan Aparat yang berjaga di tapal batas, menyerahkan malam-malam mereka demi tidur nyenyak kita.
Ketika semua unsur ini melebur, runtuhlah ego kelompok. Kelas menengah tidak boleh menjadi penonton yang pasif di menara gading. Kita harus merasakan detak jantung yang sama dengan mereka yang berada di garis depan perjuangan hidup sehari-hari.
Ringkasnya, nasionalisme kita adalah nasionalisme yang hidup. Ia mengalir bersama keringat petani, berdenyut bersama visi pengusaha, dan berdiri tegak bersama keberanian tentara.
Menunaikan Amanat
Saatnya mengetuk kembali pintu hati kita. Mengenang pahlawan bukan lagi soal meratapi masa lalu, melainkan memikul tanggung jawab masa depan.
Setiap kali kita melangkah, ingatlah bahwa ada jutaan harapan yang dititipkan di pundak kita. Rasa nasionalisme ini harus berwujud menjadi rasa empati yang mendalam, sebuah ikatan batin yang kuat bahwa jika satu bagian dari bangsa ini terluka, maka seluruh tubuh NKRI akan merasakannya.
Mari kita bangun dari kenyamanan yang melenakan. Mari kita jadikan persatuan ini sebagai perisai, dan amanat penderitaan rakyat sebagai kompas. Karena pada akhirnya, Indonesia bukan sekadar tempat kita mencari nafkah, melainkan sebuah rumah besar yang pondasinya dibangun dari pengorbanan, dan dindingnya diperkokoh oleh persatuan kita semua. (**/Red)
Publisher: FAD



