GEMBLOG, Sejarah - Pada akhir abad ke-17, Nusantara diguncang salah satu konflik paling dramatis dalam sejarah Jawa dan kawasan timur Indonesia: Pemberontakan Trunajaya (1674–1680). Di dalam pusaran konflik itu, terjadi Pertempuran Kediri (1678)—sebuah episode berdarah yang mempertemukan kekuatan lokal Jawa, VOC, serta pasukan-pasukan dari Sulawesi Selatan yang berada di kubu berbeda.
Peristiwa ini bukan sekadar perang perebutan kota. Ia adalah potret getir politik Nusantara: ketika sesama anak bangsa, bahkan dari wilayah yang sama, dipaksa berhadapan demi kepentingan kekuasaan dan aliansi yang berbeda.
Latar Belakang: Pemberontakan yang Mengguncang Mataram
Pemberontakan ini dipimpin oleh Raden Trunajaya, bangsawan Madura yang menentang kekuasaan
Amangkurat I dari Kesultanan Mataram.
Trunajaya berhasil merebut sejumlah wilayah penting di Jawa Timur dan bahkan menguasai ibu kota Mataram pada 1677. Setelah Amangkurat I wafat, putranya Amangkurat II naik tahta dalam kondisi kerajaan yang nyaris runtuh.
Untuk menyelamatkan kekuasaan, Amangkurat II meminta bantuan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Bantuan ini tidak gratis—VOC menuntut konsesi ekonomi dan politik sebagai imbalannya.
Kediri: Titik Balik Perang (1678)
Kediri menjadi benteng kuat Trunajaya setelah ia mundur dari pusat Mataram. Kota ini dipilih karena letaknya strategis dan mudah dipertahankan.
Pada November 1678, pasukan gabungan Mataram–VOC melancarkan serangan besar. Ekspedisi ini dipimpin oleh Laksamana VOC Anthonio Hurdt.
Tanggal penting: 25 November 1678
Pasukan VOC dan Mataram berhasil merebut Kediri setelah pertempuran sengit. Kota itu jatuh, dan pertahanan Trunajaya runtuh.
Namun perang belum selesai.
Dimensi Sulawesi Selatan: Sekutu Berseberangan
Inilah bagian yang membuat peristiwa ini menjadi fragmen menyakitkan bagi sejarah Sulawesi Selatan.
Setelah kekalahan
Kesultanan Gowa dalam Perang Makassar (1666–1669), banyak prajurit Makassar dan Bugis tercerai-berai. Sebagian memilih bergabung dengan VOC, sebagian lain menjadi pasukan bayaran atau bergabung dengan kekuatan anti-VOC, termasuk Trunajaya.
Tokoh penting dari Sulawesi Selatan yang terlibat adalah:
- Karaeng Galesong — bangsawan Makassar yang mendukung Trunajaya.
- Pasukan Bugis di bawah tokoh-tokoh yang kemudian bersekutu dengan VOC.
Akibatnya, di medan perang Jawa Timur termasuk Kediri, prajurit dari tanah Sulawesi Selatan bisa saja berhadapan satu sama lain dalam kubu berbeda.
Mereka bertarung bukan atas nama kampung halaman, melainkan karena realitas politik, aliansi, dan bertahan hidup.
Akhir Trunajaya
Setelah kekalahan di Kediri, Trunajaya melarikan diri ke wilayah pegunungan. Ia akhirnya tertangkap pada akhir 1679 dan dieksekusi pada Januari 1680 atas perintah Amangkurat II.
Kemenangan Mataram-VOC di Kediri menjadi tonggak penting:
Sejak saat itu, pengaruh VOC dalam politik Jawa semakin dalam dan menentukan arah sejarah Indonesia berikutnya.
Makna Historis
Pertempuran Kediri (1678–1679) menunjukkan:
- Rapuhnya kerajaan-kerajaan Nusantara akibat konflik internal.
- Strategi VOC memanfaatkan perpecahan lokal untuk memperluas pengaruh.
- Realitas pahit bahwa pasukan dari Sulawesi Selatan yang sebelumnya satu tanah bisa saling berhadapan dalam perang orang lain.
Ia adalah kisah tentang politik, pengkhianatan, kesetiaan, dan harga mahal dari sebuah aliansi.
Sejarah ini bukan hanya milik Jawa, tetapi juga bagian dari memori kolektif Sulawesi Selatan.
Daftar Pustaka
Danadrana, Agus Sri. 1983. Kepahlawanan Trunajaya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Hurdt, Anthonio. 1678. De Expeditie naar Kediri (arsip laporan VOC). Arsip Nasional Belanda (Nationaal Archief).
Pigeaud, Theodore G.Th. 1967–1970. Islamic States in Java 1500–1700. The Hague: Martinus Nijhoff.
Ricklefs, M.C. 2008. A History of Modern Indonesia Since c.1200. 4th Edition. Stanford: Stanford University Press.
Andaya, Leonard Y. 1981. The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi in the Seventeenth Century. The Hague: Martinus Nijhoff.
Wikipedia contributors. “Trunajaya Rebellion.” Wikipedia, The Free Encyclopedia.
Wikipedia contr
ibutors. “Kediri Campaign (1678).” Wikipedia, The Free Encyclopedia.



