Menjaga Marwah Luwu sebagai Prokem Bangsa
GEMBLOG, LUWU - Luwu sejak awal tidak dipahami semata sebagai suku, melainkan sebagai sebuah area peradaban wanua, lembata, atau prokem bangsa yang menaungi beragam anak suku. Sebagaimana Indonesia bukan “Suku Indonesia”, Luwu pun adalah payung besar yang melahirkan dan merangkul berbagai komunitas dalam satu bingkai sejarah dan adat.
Karena itu, ketika Luwu dibahas dari sudut pandang tiap anak suku, kerap muncul versi-versi yang berbeda. Tulisan ini mencoba menghadirkan pembacaan yang berimbang untuk menempatkan Luwu pada posisi asalnya: pusat peradaban yang menyatukan.
Pada era Tomanurung Batara Guru, nama Luwu diyakini berasal dari dua kata: Lu (daratan) dan Wu (hijau). Pencetusan awalnya berjejak di kawasan Pensomoni Lampenai (Luwu Timur). Tak heran, Wotu menyebut dirinya “Wotu ontonna Luwu” Wotu adalah pusat Luwu, karena di sanalah istilah Luwu pertama kali bergema.
Dalam I La Galigo disebutkan:
“…Ma’senggo-senggo ri Mengkonga, Ma’badong ri Toraja, Kajangki ri Luwu…”
Frasa “Kajangki ri Luwu” menegaskan bahwa pada fase awal, Luwu berkisar dari Wotu hingga Cerekang; tarian asli Wotu memang Kajangki. Toraja dan Mengkonga saat itu belum masuk bingkai Luwu. Buku Sejarah Baebunta juga menempatkan Balailo Nurung (Tomanurung Baebunta) sezaman dengan Batara Guru yang turun di Wotu.indikasi wilayah-wilayah itu belum berada di bawah Luwu pada periode pertama.
Pada periode kedua, setelah vakum Pitu Pariyama, datanglah Simpurusiang. Para datu berikutnya memperlebar wilayah melalui perpindahan wareq (pusat kekuasaan) beberapa kali. Ada kerajaan yang masuk sebagai “kakak” berbasis persaudaraan dan penghormatan dan ada pula yang masuk karena penaklukan.
Wotu, Baebunta, dan Toraja digolongkan sebagai “Bate-bate saliweng Pare”, wilayah saudara yang bergabung karena ikatan nilai dan kekaguman pada keturunan Batara Guru yang datang membawa ilmu, kearifan lokal, dan pembudayaan bahasa dari “iyo (proto)” menjadi “iye (neutro)”.
Menempatkan Ulang Narasi: Bukan “Ata” dan Bukan “Palili”
Cerita yang menyebut Toraja sebagai “ata” atau Wotu sebagai “palili” adalah kekeliruan besar. Dalam adat Luwu, prosesi penting seperti pengambilan uwe mami dan pembangunan istana tidak sah tanpa pamit kepada Macoa Bawalipu (pemimpin adat tertinggi Wotu, kausaprima bumi). Macoa duduk sejajar dengan Datu sebagai kakak dalam struktur adat. Ini menegaskan bahwa hubungan itu adalah persaudaraan, bukan subordinasi.
Di atas fondasi peradaban itulah Andi Djemma (A. Djemma) berdiri sebagai Datu Luwu ke-36 figur yang memimpin di masa peralihan, ketika tradisi bertemu tuntutan zaman. Ia bukan sekadar raja simbolik, tetapi penjaga marwah Luwu: memelihara adat, merawat persaudaraan antar-wilayah, dan memastikan Luwu tetap dipahami sebagai prokem bangsa yang menaungi, bukan memecah.
Kepemimpinan A. Djemma mengingatkan kita bahwa Luwu bukan cerita tentang siapa lebih dulu atau lebih tinggi, melainkan tentang bagaimana yang lebih dulu merangkul yang datang kemudian. Luwu adalah rumah besar. Dan Datu termasuk A. Djemma adalah penata rumahnya.
Menempatkan A. Djemma sebagai Datu ke-36 berarti meneguhkan kembali jati diri Luwu: wilayah peradaban yang menyatukan anak-anak suku dalam satu ikatan adat dan nilai. Di sanalah Luwu terus hidup, bukan sebagai label suku, melainkan sebagai ruh persatuan.
Berikut adalah rujukan sumber yang dapat dijadikan dasar atas narasi dalam tulisan tentang A. Djemma sebagai Datu Luwu ke-36 dan konstruksi sejarah Luwu:
1️⃣ Sumber Primer & Lontaraq
Sureq I La Galigo
– Epos Bugis kuno yang memuat kisah Batara Guru, struktur kosmologi, serta penyebutan wilayah seperti Luwu, Mengkonga, dan Toraja.
– Disalin dalam berbagai naskah lontaraq dan telah diteliti oleh sarjana dalam dan luar negeri.
Lontaraq Luwu (Catatan Kerajaan Luwu)
– Memuat silsilah Datu Luwu, termasuk penetapan Andi Djemma sebagai Datu ke-36.
– Tersimpan dalam koleksi arsip adat dan sebagian terdokumentasi dalam penelitian sejarah Sulawesi Selatan.
Lontaraq Wotu dan Tradisi Lisan Wotu
– Menjelaskan posisi Wotu dalam struktur awal Luwu serta istilah adat seperti Macoa Bawalipu.
2️⃣ Literatur Sejarah & Akademik
Christian Pelras, The Bugis (1996)
– Membahas struktur sosial-politik Bugis, termasuk posisi Luwu sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan.
Andi Zainal Abidin Farid, berbagai tulisan tentang sejarah Sulawesi Selatan
– Mengulas tentang kerajaan-kerajaan Bugis dan legitimasi adat Luwu.
Leonard Y. Andaya, The Heritage of Arung Palakka (1981)
– Mengkaji dinamika politik kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan termasuk Luwu dalam konteks regional.
Sejarah Daerah Sulawesi Selatan (Depdikbud RI)
– Memuat uraian tentang Luwu sebagai kerajaan tua dan perkembangan wilayahnya.
Buku Sejarah Baebunta (penulis lokal/penelitian daerah)
– Menguraikan kisah Tomanurung Baebunta dan relasinya dengan Luwu.
3️⃣ Arsip & Dokumen Modern
Arsip Pemerintah Kabupaten Luwu & Kota Palopo
– Data resmi tentang silsilah Datu Luwu.
Dokumen Kedatuan Luwu / Istana Datu Luwu (Bawalipu, Palopo)
– Silsilah resmi yang mencatat Andi Djemma sebagai Datu Luwu ke-36.
Penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Selatan
– Kajian tentang struktur adat, istilah “Bate-bate Saliweng Pare”, dan hubungan wilayah adat.
4️⃣ Tentang A. Djemma (Andi Djemma)
Dikenal sebagai Datu Luwu ke-36.
Berperan pada masa transisi kolonial hingga awal kemerdekaan.
Diakui sebagai tokoh penting dalam sejarah perjuangan dan pemerintahan di Luwu.
Namanya juga diabadikan sebagai Bandara Andi Djemma (Masamba).
Catatan Akademik Penting
Beberapa bagian dalam narasi seperti:
- Etimologi “Lu” dan “Wu” dari Tiongkok
- Klaim pusat awal Luwu di Wotu
- Frasa spesifik dalam I La Galigo
masih menjadi bahan diskusi akademik dan memiliki variasi tafsir antar peneliti serta tradisi lisan lokal. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan adalah kombinasi lontaraq, tradisi lisan, dan kajian ilmiah modern.
Penulis : Syarif Al Dhin (SAD)



