GEMBLOG, Jakarta - Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai Hakim Konstitusi. Momen wisuda purnabakti yang digelar pada Rabu kemarin (4/2) itu tak hanya sarat nuansa penghormatan institusional, tetapi juga diwarnai kisah personal yang mengundang senyum sekaligus refleksi.
Dalam sambutan terakhirnya, Arief Hidayat membuka sisi lain perjalanan hidupnya. Ia bercerita tentang harapan seorang ayah yang sederhana namun penuh makna: keinginannya agar sang anak kelak menjadi wakil presiden. Namun, takdir berkata lain. Anak yang ia harapkan masuk gelanggang politik justru memilih jalan akademik dan kini berkiprah sebagai dosen.
“Keinginan orang tua tidak selalu sejalan dengan jalan hidup anak,” ujar Arief dalam sambutan yang disampaikan dengan nada ringan namun penuh pesan, sebagaimana tayangan yang diunggah melalui kanal YouTube.
Tak berhenti di situ, Arief juga membagikan cerita tentang anak bungsunya yang sempat ingin melahirkan di Solo, Jawa Tengah. Alasannya terdengar jenaka namun sarat simbolik: agar sang anak kelak bisa menjadi presiden atau wakil presiden. Cerita itu sontak mengundang tawa hadirin, sekaligus menjadi penegas bahwa mimpi dan simbol sering kali hadir dalam bentuk yang paling manusiawi.
Di balik kisah-kisah keluarga tersebut, terselip pesan mendalam tentang penerimaan, pilihan hidup, dan kebijaksanaan dalam memaknai peran. Arief seakan menegaskan bahwa jabatan tinggi, termasuk di lembaga sekelas Mahkamah Konstitusi, tidak menjamin seseorang dapat “mengatur” masa depan anak-anaknya.
Wisuda purnabakti Arief Hidayat dihadiri jajaran Hakim Konstitusi, yakni Ketua MK Suhartoyo, Saldi Isra, Anwar Usman, Enny Nurbaningsih, Daniel Yusmic Pancastaki Foekh, Guntur Hamzah, Ridwan Mansyur, serta Arsul Sani. Kehadiran para hakim ini menjadi simbol penghormatan atas pengabdian Arief selama menjalankan tugas konstitusionalnya.
Sebagai Hakim Konstitusi, Arief Hidayat dikenal luas sebagai figur yang aktif dalam penguatan nilai-nilai konstitusi dan pendidikan hukum. Purna baktinya menandai berakhirnya satu fase pengabdian di MK, namun kisah dan pemikirannya, baik di ruang sidang maupun dalam cerita-cerita sederhana tentang keluarga meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan.
Dari mimpi tentang wakil presiden hingga kenyataan seorang anak menjadi dosen, Arief Hidayat menutup pengabdiannya dengan satu pesan implisit: dalam negara hukum, sebagaimana dalam keluarga, takdir dan pilihan hidup sering kali berjalan dengan caranya sendiri. (Red)
Penulis : Syarif Al Dhin
Sumber : YouTube Mahkamah Konstitusi






